Aku Juga Ada di Sini

18 Juni, 2010

Blaze of Glory: Jika Penyihir Bermain-main dengan Kematian

Di ambang ajalnya, Aubrey berusaha menyingkap pelaku kejahatan yang mengancam kedamaian Kerajaan Albion...

Apa yang akan kau lakukan kalau menjadi Aubrey Fitzwilliam, putra tunggal dari mantan perdana menteri yang disegani? Semua orang menaruh harapan tinggi padanya, sekaligus menantinya jatuh supaya mereka bisa mencemari nama baik ayahnya. Aubrey pun berusaha memenuhi harapan itu dengan mencetak prestasi yang luar biasa di sekolah, tapi sebuah kecelakaan sihir hampir menjungkir segalanya.

Sejak kecil, bakat sihir Aubrey sudah jelas terlihat. Dia bisa menerapkan hukum-hukum sihir yang rumit untuk menguping orangtuanya di perpustakaan atau membekukan air dengan semburan api. Kini di tahun terakhir sekolahnya, Aubrey yang sudah berusia tujuh belas tahun tidak sabar lagi untuk mengukir namanya dalam sejarah perkembangan ilmu sihir. Dia memasuki bidang sihir yang terlarang dengan membuka pintu kematian…, dan tidak bisa menutupnya kembali.

Berkat sahabatnya yang bernama George, Aubrey berhasil mengelak dari kematian, tapi benang yang menghubungkan jiwa dengan raganya sangat tipis dan ikatannya tidak lebih kencang daripada tali sepatu. Namun, kelemahan ini tidak membuat nyalinya surut ketika ada pembunuh misterius pada acara berburu yang diadakan oleh sepupunya, yaitu Putra Mahkota Albert. Ternyata pembunuh itu hanyalah golem yang dikendalikan oleh penyihir kuat yang cukup lihai untuk tidak meninggalkan bekasnya. Tidak lama setelah kejadian itu, seorang profesor dari lembaga penelitian rahasia juga tewas. Ayah Aubrey yang sedang berkampanye untuk menjadi perdana menteri lagi pun diculik.


Siapakah dalang di balik semua kejahatan ini? Mata-mata dari negara tetangga, Holmland, yang dicurigai hendak mencaplok Albion? Pengkhianat di dalam Kerajaan Albion sendiri? Atau para pemberontak yang bergabung dalam Pasukan Albion Baru?

Bersama anak gadis profesor tadi, Caroline yang tangguh, Aubrey menyelidiki rangkaian misteri yang mengancam nyawa ayahnya sekaligus kedamaian negerinya. George pun ikut serta demi memastikan keselamatan Aubrey, sekaligus menyadarkan sahabatnya itu tentang perasaannya kepada Caroline.

Penyihir Detektif
Bayangkanlah jika Trio Detektif bisa menggunakan sihir dalam penyelidikan-penyelidikan mereka. Kira-kira seperti itulah yang dilakukan oleh Aubrey. Dia menggunakan logika dan keahlian sihirnya yang istimewa untuk menganalisis petunjuk dan fakta yang ada. Sihir yang digunakan oleh Aubrey pun mempunyai penjelasan-penjelasan ilmiah (karena dalam novel ini, sihir sudah diperlakukan sebagai sains) dan hukum-hukumnya bisa diterapkan dalam berbagai kondisi.

Jangan khawatir, Michael Pryor masih menyediakan banyak hal menarik lainnya dalam buku pertama trilogi The Laws of Magic ini. Kita akan dibawa ke “Inggris” pada awal abad kedua puluh. Pryor menggambarkan perkembangan sosial dan teknologinya dengan baik. Melalui tokoh Aubrey, kita bisa mengintip pandangan orang-orang masa itu terhadap nasib buruh, emansipasi wanita, penemuan kereta api, dan percetakan. Semua itu disentuh sesuai laju alur cerita, dan kecerdasan Aubrey dalam menangkap intinya memastikan kita tidak perlu berpikir terlalu rumit.

Kenapa “Inggris”? Albion adalah nama pertama yang diberikan kepada daratan Inggris. Dalam novel ini pun disebutkan bahwa Albion adalah sebuah kerajaan kepulauan dengan negara-negara tetangga di Benua yang terletak di seberang lautan. Jadi, kira-kira negara manakah yang dimaksud dengan “Holmland”? Biarlah masing-masing pembaca yang menafsirkannya sendiri.

Meskipun beraroma hal-hal serius seperti kematian dan penyelidikan, novel ini bisa membuat kita tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Aubrey. Tokoh utama ini sangat unik. Di satu sisi, dia berusaha kelihatan sempurna layaknya gentleman sejati, tapi di sisi lain dia hanyalah remaja laki-laki biasa dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung nakal. Apalagi ketika berhadapan dengan Caroline, Aubrey malah tidak bisa mengendalikan kata-katanya, bahkan gagal dalam sebagian besar usahanya untuk membuat gadis itu terkesan. Akhir cerita Blaze of Glory pun membuat kita puas sekaligus penasaran tentang kelanjutannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar di Sini :)