Aku Juga Ada di Sini

23 September, 2013

Temeraire: Sang Naga dan Sang Kapten

Throne of Jade (Temeraire, #2)Throne of Jade by Naomi Novik
My rating: 4 of 5 stars
Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Ine Milasari Hidajat dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo (September 2013)








"Laurence, Laurence, jangan tinggalkan aku lagi." -Temeraire



Dengan judul terjemahan Takhta Langit, buku kedua serial Temeraire diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Nama unik ini, Temeraire, adalah milik seekor naga. Seperti kebanyakan hal dalam buku pertama, aku tidak ingat asal-usul nama itu; aku membacanya dua tahun yang lalu. Aku hanya ingat bahwa aku sangat menyukai interaksi antara Temeraire dengan tokoh utamanya: Laurence, manusia yang menjadi penunggang sang naga agung.

Dunia dalam cerita Temeraire adalah sekitar tahun 1800 dengan satu perbedaan: angkatan udara berarti para penunggang naga. Pada masa itu, dalam sejarah sesungguhnya, belum ada pesawat terbang. Naomi Novik mengisi fungsi pesawat terbang militer dengan naga yang bisa berbicara dan cukup besar untuk ditunggangi 5-10 manusia.

Laurence bukan perwira angkatan udara; justru sebaliknya, dia seorang kapten kapal Inggris. Dalam sebuah pertempuran, kapal Laurence mendapatkan jarahan seekor telur naga. Menetaslah Temeraire. Laurence dan Temeraire tak terpisahkan sejak saat itu…



… sampai utusan dari Kaisar China datang. Temeraire, saat masih berupa telur, dikirim melintasi samudra untuk pergi ke Eropa sebagai hadiah dari China kepada Prancis. Mengetahui bahwa telur itu jatuh ke tangan Inggris, China berang dan menuntut Inggris untuk mengembalikan naga mereka.

Temeraire menolak dengan tegas, bahkan hampir mogok makan karena Laurence tidak diizinkan mengunjunginya hingga perkara ini berakhir. Para pejabat memaksa Laurence membohongi Temeraire agar naik ke kapal yang akan mengangkutnya ke China. Apabila menolak, Laurence terancam dibuang dari militer, bahkan bisa dihukum mati. Bagaimana Laurence dan Temeraire menyiasati keadaan ini?

Naomi Novik menggambarkan detail Angkatan Udara ala Naga dengan menarik dan bisa dipercaya. Biasanya aku melewatkan detail semacam itu saat membaca novel dengan unsur perang/militer, tapi aku malah penasaran alat-alat apa saja yang dipasangkan kepada naga sebelum terbang ke medan perang dan cara-cara formasi naga bekerja sama.

Sudah puas dengan Angkatan Udara ala Naga di Inggris, kita akan dimanjakan dengan latar baru di seperlima bagian akhir novel kedua ini. Naga-naga di tempat baru itu mempunyai gaya hidup yang sangat berbeda dengan di latar sebelumnya. Aku harap latar baru ini dijelajahi lebih banyak pada buku berikutnya.

Sayangnya, ada dua hal yang menggangguku saat membaca Temeraire. Pertama, jumlah tokoh terlalu banyak. Bahkan, pada awal cerita, aku lupa siapa ini Roland, siapa ini Granby, karena sudah terlalu lama jeda antara aku membaca buku pertama dan kedua. Masih ada pula nama-nama lain yang berseliweran. Hal lainnya adalah pembagian bab yang terlalu tebal. Aku terbiasa membaca buku dengan bab-bab pendek, jadi rasanya satu bab Temeraire tidak habis-habis.

Secara keseluruhan, pengalamanku membaca Takhta Langit menyenangkan. Terjemahannya tepat, terutama istilah-istilah militernya. Kadang-kadang ada ungkapan yang masih harfiah dan kalimat-kalimatnya kurang luwes, tapi tidak mempersulit pemahaman pembaca. Semoga aku berkesempatan membaca kelanjutannya.


View all my reviews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar di Sini :)