Aku Juga Ada di Sini

16 November, 2012

Perjalanan Empat Sutradara Indonesia


Judul: My Life as Film Director
Penulis: Haqi Achmad
Penerbit: Plot Point

Hal pertama yang membuat saya terkesan ketika mendapatkan buku ini adalah kertasnya full color. Selain itu, hurufnya besar-besar dengan tataletak yang enak dibaca; sangat cocok untuk buku panduan semacam ini. My Life as Film Director termasuk seri My Life As yang diterbitkan oleh PlotPoint Publishing. Judul lainnya adalah My Life as Music Video Director, ditulis oleh Haqi Achmad juga.

Empat sutradara menjadi narasumber buku ini:
  • Joko Anwar, sutradara Modus Anomali, Janji Joni
  • Hanung Bramantyo, sutradara Ayat Ayat Cinta, Tanda Tanya
  • Sammaria, sutradara Cin(T)a, Demi Ucok
  • Ifa Ifansyah, sutradara Garuda di Dadaku, Sang Penari



Proses pembuatan film hanya digambarkan sedikit karena pada dasarnya buku ini berisi kisah perjalanan setiap sutradara di atas dari bagaimana tertarik kepada perfilman hingga prestasi-prestasi terkini. Semula saya kira isi buku ini akan terpisah menjadi empat bagian untuk masing-masing narasumber. Ternyata Haqi Achmad dapat memadukan informasi yang diperolehnya dari mereka dengan sangat baik.

Tiga di antara mereka merintis kemampuan dari teater sekolah. Sammaria baru menyadari ketertarikannya kepada perfilman pada jenjang kuliah dan ikut serta dalam klub film di kampusnya. Perjalanan mereka hingga menjadi sutradara mempunyai keunikan masing-masing. Tantangan tidak hanya berasal dari diri sendiri dan sesama pegiat film, tapi juga dari lingkungan sekitar dan orangtua yang mengkhawatirkan rezeki anak-anaknya jika berkarir di perfilman. Semuanya berbuah manis ketika arus karir para sutradara ini sudah mantap. Walaupun demikian, mereka tetap belajar dari setiap film garapannya dan berbagi kepada kita lewat buku ini.

“The best education in film is to make on.”
-Stanley Kubrick, sutradara 2001: A Space Odissey

Di antara kutipan-kutipan sutradara internasional, kutipan itulah yang paling dipegang oleh keempat narasumber buku ini. Percuma mempelajari dan melakukan segala macam hal apabila tidak rajin membuat film. Lagi pula, menjadi sutradara tidak hanya menyangkut hasil filmnya, tapi juga kepiawaiannya memimpin tim sepanjang proses pembuatan film.

Akhir kata, buku ini pantas dibaca semua orang, baik bagi kita yang sedang mempertimbangkan untuk melibatkan diri di dunia perfilman maupun bagi kita yang ingin menambah wawasan saja. Penulisannya yang simpel dan mengalir pun membuat buku ini bisa dibaca adik-adik kita sedari usia 10 tahun ke atas. Semoga PlotPoint dan Haqi Achmad meluncurkan buku-buku My Life As lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar di Sini :)