Aku Juga Ada di Sini

22 Juli, 2010

City of Ashes Terbit 28 Juli 2010


City of Ashes
The Mortal Instruments
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-8801-30-0
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 616 halaman
Terbit: segera
Harga: Rp99.900,00


Clary hanya ingin hidup normal kembali, tapi ia telanjur terlibat dengan para Pemburu Bayangan yang bertugas membantai iblis. Masalah semakin menjadi-jadi karena ibunya tidak bisa dibangunkan dan Clary tidak bisa berhenti mencintai Jace. Tentu saja ini menyakiti hati Simon, yang mendadak pergi ke sarang vampir seorang diri. Valentine pun datang lagi, kali ini untuk mengambil Pedang Mortal. Lagi-lagi dia menawari Jace untuk ikut dengannya. Ketika Jace diketahui telah pergi untuk menemui Valentine, akankah Clary tetap memercayainya?

Dalam sekuel City of Bones ini, ketegangan menanjak dan konflik semakin tajam!

Untuk keterangan lebih lengkap, termasuk cara membeli novel City of Ashes ini, hubungi Ufuk Press di 021-7976587/79192866.

22 Juni, 2010

Assassin’s Creed Renaissance: Kebenaran Akan Ditulis dengan Darah

Pengarang: Oliver Bowden
Penerbit: Ufuk Press, Juni 2010
Harga: Rp89.900,00

Novel ini akan mempertemukan kita dengan Ezio Auditore, seorang pemuda tampan dan gagah, di kota Florence kebanggaan Italia. Sebagai calon pewaris salah satu bank terbesar di Italia pada masa itu, Ezio menghabiskan hari-harinya dengan membantu pekerjaan ayahnya…, kalau dia tidak sedang sibuk berpacaran dengan Cristina atau berkelahi dengan pewaris Pazzi yang congkak!

Namun, tiba-tiba hari-hari indahnya sirna ketika keluarganya dituduh mengkhianati Florence, bahkan ayah dan saudara-saudara laki-laki Ezio dihukum gantung di tengah kota. Setelah menyembunyikan ibu dan adik perempuannya, Ezio bertekad untuk memulai rangkaian pembalasan dendamnya, tapi ternyata masalah mereka lebih pelik dan mendalam daripada yang bisa Ezio duga.

Ayah Ezio adalah anggota Ordo Assassins yang telah lama berperang dengan Templars demi menggagalkan rencana jahat mereka yang ingin menguasai dunia. Ezio menemukan baju tarung ayahnya, sebuah senjata antik, dan secarik halaman Codex misterius. Dengan bantuan Leonardo da Vinci, Ezio berhasil memperbaiki senjata itu dan membuat senjata-senjata lainnya ketika semakin banyak halaman Codex yang dia kumpulkan dari musuh-musuhnya. Codex ini pula yang akan membimbing Ezio menuju rahasia terdalam Ordo Assassins, juga kekuatan terpendam di bawah Vatikan yang dikira sanggup menghancurkan dunia.

Menjelajahi Italia pada Zaman Renaissance
Novel ini dibuat berdasarkan game terlaris Ubisoft yang berjudul Assassin’s Creed II, juga sudah diadaptasi ke dalam bentuk layar lebar. Game bergenre role playing game memang biasanya mempunyai alur cerita yang kuat, tapi tidak diragukan lagi bahwa Assassin’s Creed II dibuat dengan bobot khusus dan kedalaman cerita yang setara dengan novelnya. Sementara tokoh utama dalam game Assassin’s Creed II berpindah-pindah dari masa kini ke masa lalu (dengan memasuki “pengalaman” Ezio), novelnya secara konsisten bercerita tentang Ezio Auditore di Italia abad 15-16.

Salah satu kekuatan dalam novel dan game ini adalah setingnya. Memang kalau kita memainkan game Assassin’s Creed II, kita bisa melihat langsung keindahan kota Florence dan tempat-tempat lainnya yang dikunjungi oleh Ezio di Italia. Namun, Oliver Bowden sebagai pengarang juga pandai menguraikan seting tersebut dalam kata-kata, bahkan memasukkan perasaan Ezio (yang tidak bisa disampaikan lewat game) terhadap Florence kota kelahirannya. Bowden tidak hanya berhasil menyajikan seperti apa kota-kota tersebut, tapi juga apa yang sedang terjadi di sana pada masa itu. Semangat dan kecemasan orang-orang Venesia terhadap abad baru (yang disertai desas-desus hari kiamat) adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dipercikkan kepada pembaca lewat novel ini.

Hal menarik lainnya dalam novel Assassin’s Creed: Renaissance adalah keberadaan tokoh-tokoh nyata yang difiktifkan. Kita akan diajak masuk ke dalam ruang kerja Leonardo da Vinci sang seniman sekaligus penemu, dan melihat bagaimana Niccolò Machiavelli sang filsuf terinspirasi untuk menulis bukunya yang terkenal, The Prince, tentang negara yang kuat. Ada juga pastor Savonarola yang memang pernah memerintah secara paksa di Florence pada 1494-1498. Musuh utama dalam novel ini, Rodrigo Borgia, adalah versi fiktif dari seorang kardinal Spanyol yang menjadi Paus Alexander VI pada masa senjanya. Bahkan, usaha pembunuhan Lorenzo de’ Medici (pemimpin Florence) oleh keluarga Pazzi diangkat dari kejadian nyata.

Bagaimanapun juga, membaca novel ini butuh kehati-hatian dalam berpikir. Ezio membunuh musuh-musuhnya, tapi dia tidak melakukan itu dengan senang dan berpuas hati (kecuali ketika membunuh dua orang yang menyebabkan kematian keluarganya secara langsung). Ordo Assassins juga menegakkan kebenaran dengan membunuh para Templars yang serakah dan merusak kedamaian. Tidak diragukan lagi, adegan sadis (tapi tidak membuat mual) berhamburan di mana-mana. Apakah ini cara yang benar untuk menegakkan kebenaran? Pembaca yang belum dewasa pikirannya sebaiknya tidak membaca buku ini sendirian.

18 Juni, 2010

Blaze of Glory: Jika Penyihir Bermain-main dengan Kematian

Di ambang ajalnya, Aubrey berusaha menyingkap pelaku kejahatan yang mengancam kedamaian Kerajaan Albion...

Apa yang akan kau lakukan kalau menjadi Aubrey Fitzwilliam, putra tunggal dari mantan perdana menteri yang disegani? Semua orang menaruh harapan tinggi padanya, sekaligus menantinya jatuh supaya mereka bisa mencemari nama baik ayahnya. Aubrey pun berusaha memenuhi harapan itu dengan mencetak prestasi yang luar biasa di sekolah, tapi sebuah kecelakaan sihir hampir menjungkir segalanya.

Sejak kecil, bakat sihir Aubrey sudah jelas terlihat. Dia bisa menerapkan hukum-hukum sihir yang rumit untuk menguping orangtuanya di perpustakaan atau membekukan air dengan semburan api. Kini di tahun terakhir sekolahnya, Aubrey yang sudah berusia tujuh belas tahun tidak sabar lagi untuk mengukir namanya dalam sejarah perkembangan ilmu sihir. Dia memasuki bidang sihir yang terlarang dengan membuka pintu kematian…, dan tidak bisa menutupnya kembali.

Berkat sahabatnya yang bernama George, Aubrey berhasil mengelak dari kematian, tapi benang yang menghubungkan jiwa dengan raganya sangat tipis dan ikatannya tidak lebih kencang daripada tali sepatu. Namun, kelemahan ini tidak membuat nyalinya surut ketika ada pembunuh misterius pada acara berburu yang diadakan oleh sepupunya, yaitu Putra Mahkota Albert. Ternyata pembunuh itu hanyalah golem yang dikendalikan oleh penyihir kuat yang cukup lihai untuk tidak meninggalkan bekasnya. Tidak lama setelah kejadian itu, seorang profesor dari lembaga penelitian rahasia juga tewas. Ayah Aubrey yang sedang berkampanye untuk menjadi perdana menteri lagi pun diculik.


Siapakah dalang di balik semua kejahatan ini? Mata-mata dari negara tetangga, Holmland, yang dicurigai hendak mencaplok Albion? Pengkhianat di dalam Kerajaan Albion sendiri? Atau para pemberontak yang bergabung dalam Pasukan Albion Baru?

Bersama anak gadis profesor tadi, Caroline yang tangguh, Aubrey menyelidiki rangkaian misteri yang mengancam nyawa ayahnya sekaligus kedamaian negerinya. George pun ikut serta demi memastikan keselamatan Aubrey, sekaligus menyadarkan sahabatnya itu tentang perasaannya kepada Caroline.

Penyihir Detektif
Bayangkanlah jika Trio Detektif bisa menggunakan sihir dalam penyelidikan-penyelidikan mereka. Kira-kira seperti itulah yang dilakukan oleh Aubrey. Dia menggunakan logika dan keahlian sihirnya yang istimewa untuk menganalisis petunjuk dan fakta yang ada. Sihir yang digunakan oleh Aubrey pun mempunyai penjelasan-penjelasan ilmiah (karena dalam novel ini, sihir sudah diperlakukan sebagai sains) dan hukum-hukumnya bisa diterapkan dalam berbagai kondisi.

Jangan khawatir, Michael Pryor masih menyediakan banyak hal menarik lainnya dalam buku pertama trilogi The Laws of Magic ini. Kita akan dibawa ke “Inggris” pada awal abad kedua puluh. Pryor menggambarkan perkembangan sosial dan teknologinya dengan baik. Melalui tokoh Aubrey, kita bisa mengintip pandangan orang-orang masa itu terhadap nasib buruh, emansipasi wanita, penemuan kereta api, dan percetakan. Semua itu disentuh sesuai laju alur cerita, dan kecerdasan Aubrey dalam menangkap intinya memastikan kita tidak perlu berpikir terlalu rumit.

Kenapa “Inggris”? Albion adalah nama pertama yang diberikan kepada daratan Inggris. Dalam novel ini pun disebutkan bahwa Albion adalah sebuah kerajaan kepulauan dengan negara-negara tetangga di Benua yang terletak di seberang lautan. Jadi, kira-kira negara manakah yang dimaksud dengan “Holmland”? Biarlah masing-masing pembaca yang menafsirkannya sendiri.

Meskipun beraroma hal-hal serius seperti kematian dan penyelidikan, novel ini bisa membuat kita tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Aubrey. Tokoh utama ini sangat unik. Di satu sisi, dia berusaha kelihatan sempurna layaknya gentleman sejati, tapi di sisi lain dia hanyalah remaja laki-laki biasa dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung nakal. Apalagi ketika berhadapan dengan Caroline, Aubrey malah tidak bisa mengendalikan kata-katanya, bahkan gagal dalam sebagian besar usahanya untuk membuat gadis itu terkesan. Akhir cerita Blaze of Glory pun membuat kita puas sekaligus penasaran tentang kelanjutannya.

The Demon's Lexicon: Dusta Seorang Kakak

Pengarang: Sarah Ress Brennan
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-8801-09-6
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 360 halaman
Terbit: Mei 2010 oleh Ufuk Press
Harga: Rp54.900,00


Apa kesamaan Harry Potter dan Clary (City of Bones)? Sepanjang hidup, mereka disembunyikan dari jati diri mereka yang sebenarnya. Harry tidak pernah diberi tahu oleh paman dan bibinya bahwa orangtuanya adalah penyihir. Bahkan ibu Clary sendiri yang meminta seorang warlock untuk membuat Clary tidak bisa melihat Dunia Bayangan, supaya putrinya itu tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya ras pemburu iblis. Bagaimana dengan tokoh utama di novel ini?

Nick Ryves tahu bahwa penyihir adalah manusia berkekuatan gaib yang membuat kesepakatan dengan iblis, menumbalkan manusia lainnya demi mendapatkan kekuatan atau kekuasaan. Dia tahu para penyihir jahat mengejar-ngejar keluarganya demi mendapatkan jimat sakti yang dikenakan oleh ibunya. Dia tahu ayahnya tewas dan kakaknya, Alan, menjadi pincang demi melindungi mereka. Ya, Nick tahu segalanya, atau setidaknya begitulah yang dia kira.

Novel ini beralur cepat dan tidak bertele-tele. Ketegangan langsung disajikan sejak halaman-halaman awal dan pengarang tidak akan menyiksa pembaca dengan detail-detail yang memusingkan. Bagaimanapun juga, ketika hal-hal kecil tentang lingkungan supranatural disuguhkan, pembaca akan menyelaminya dengan nikmat. Tempat yang paling menarik adalah Pasar Goblin dengan perdagangan barang-barang sihir, musik yang unik, dan tarian pemanggil iblis. Latar belakang tempat lainnya tidak terlalu istimewa, sehingga mungkin akan mengecewakan pembaca yang mengharapkan dunia baru semegah Narnia.

Setelah membaca novel ini, saya paling terkesan oleh tokoh Alan. Kisah di dalam novel ini memang berpusat pada Nick sebagai tokoh utamanya, tapi Alanlah yang mengetahui segalanya dan memutuskan untuk merahasiakan banyak hal dari Nick. Bahkan ketika Nick merasa berhasil menyelidiki masa lalu kakaknya dan membongkar rahasia serta rencana Alan, ternyata dia baru menyingkap permukaannya. Apa yang tersembunyi di baliknya adalah kenyataan yang tidak pernah terlintas di benak Nick.

Mengapa Alan berdusta? Nick tentunya kecewa, bahkan sempat berusaha menyakiti Alan sebagai pelampiasannya. Namun Alan selalu sabar, dan Nick tidak sanggup berpisah dari sosok yang merawatnya sejak kecil itu. Apa pun yang Alan lakukan adalah demi Nick, meskipun Nick sering berprasangka kakaknya lebih mementingkan orang lain.

Pergulatan emosional ini jugalah yang menjadi keandalan The Demon’s Lexicon. Pembaca diajak mendampingi Nick saat berusaha memahami perasaannya sendiri yang rumit, juga saat berusaha membaca raut wajah dan maksud tindakan-tindakan kakaknya. Semua itu akan mengantar pembaca ke akhir cerita yang memuaskan ketika Nick memahami alasan kakaknya berdusta sekaligus betapa kuat pemuda pincang itu sesungguhnya.

08 Januari, 2010

Lomba Resensi buku HUSH HUSH karya BECCA FITZPATRICK



Hadiah:

Juara I

  • Uang tunai senilai Rp. 700.000,-
  • Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 1.000.000,-
  • Piagam Penghargaan

Juara II

  • Uang tunai senilai Rp. 500.000,-
  • Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 750.000,-
  • Piagam Penghargaan

Juara III

  • Uang tunai senilai Rp. 300.000,-
  • Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 500.000,-
  • Piagam Penghargaan

Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut:

- Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia.

- Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.

- Panjang resensi sejumlah 400 – 500 kata

- Hasil resensi diposting di blog pribadi masing-masing dan atau website

- Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 resensi, namun di dalam blog/website yang berbeda

- Peserta bukan karyawan Penerbit Ufuk

- Kirimkan email berisi link resensi tersebut dan biodata plus foto kamu ke lombaufuk@gmail.com paling lambat 15 April 2010, cantumkan “Lomba Resensi HUSH HUSH” di subject email

- Pemenang akan diumumkan di situs Ufuk (www.ufukpress.com) dan via email tanggal 30 April 2010

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Redaksi Ufuk

Email: redaksi@ufukpress.com

No telp: 021-7976587 ext 1 (editorial) atau 08561072712

29 Desember, 2009

City of Bones karangan Cassandra Clare

Menjelajahi Dunia Bayangan
melalui City of Bones karya Cassandra Clare
oleh Melody Violine

“Aku ingin hidup di dalam dunia kisah Mortal Instruments. Sangat indah!”
--Stephanie Meyer, Pengarang
Twilight

Mungkin Twilight membuat kamu jenuh karena alur ceritanya terlalu pelan dan kurang menegangkan. Mungkin Harry Potter membuat kamu penasaran, tapi enggan membaca buku pertamanya yang terlalu kekanak-kanakan. Mungkin kamu suka The Lord of the Ring, tapi ingin membaca sesuatu yang lebih terhubung dengan dunia nyata. Ya. Sudah pasti banyak orang bercerita betapa hebatnya buku-buku tersebut, tapi kamu tetap merasa ada yang kurang...

Bacalah City of Bones, novel pertama dari serial The Mortal Instruments (versi Indonesianya akan diterbitkan oleh Ufuk Press pada awal 2010). Novel ini tidak akan membiarkanmu menarik napas, tidak akan mengizinkanmu beranjak. Jantungmu akan terus berdetak kencang, kawan, dan kamu kehausan. Haus ingin tahu kelanjutan ceritanya!

Sesuai dengan kota New York yang menjadi latar belakang ceritanya, City of Bones bergerak dengan cepat tanpa kehilangan pesonanya. Dengan detail penceritaan yang jeli, Cassandra Clare berhasil membuat dunia khayalnya menjadi nyata. Ia akan membawamu menjelajahi New York dan kehidupan orang-orang di dalamnya.

Setiap tokoh mempunyai sifat dan alasan yang kuat. Mereka benar-benar hidup, sehidup usaha mereka untuk mewujudkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Perbenturan di antara mereka pun membentuk kisah yang diwarnai oleh aksi, ambisi, pengkhianatan, kepalsuan, kekuatan, cinta, perjuangan, dan harapan.


Kamu bukanlah bagian dari hidup yang penuh luka dan pembunuhan ini.

Clary yang hampir berusia 16 tahun tiba-tiba menemukan dunia baru yang gelap sekaligus menawan, yaitu Dunia Bayangan. Selama ini ia mengira dirinya hanyalah anak seorang pelukis biasa, tapi tiba-tiba ibunya diculik dan Clary hampir mati karena diserang oleh iblis. Terlebih lagi, kenapa sekarang Clary bisa melihat peri, warlock, dan nephilim?

Ketika orang yang ia sayangi berada dalam bahaya, ketika orang yang paling ia percaya malah berpaling darinya, ketika ia tidak yakin tentang siapa dirinya sebenarnya…, apa yang bisa Clary lakukan?


Pernyataan cinta itu membuatku geli, terutama ketika tidak terbalas.

Tidak. Jangan bayangkan pangeran kuda putih yang sopan dan lembut. Clary bertemu dengan Jace yang kasar, sombong, dan luar biasa menyebalkan. Tapi justru itulah yang membuat cowok berambut keemasan itu lebih… seksi. Lagipula, bagaimana Clary bisa tahan kalau ada cowok yang selalu siap menerjang iblis, vampir, bahkan manusia serigala demi melindunginya?

Tentu saja kisah ini tidak berputar di antara mereka berdua semata. Masih ada sahabat Clary yang bernama Simon. Juga ada saudara-saudara angkat Jace, yaitu Alec dan Isabelle. Mereka bertiga adalah pemburu iblis. Sekarang hanya merekalah yang bisa membantu Clary untuk menyelamatkan ibunya dari seorang idealis ekstrim bernama Valentine. Para remaja itu pun harus berjuang mati-matian karena Piala Malaikat yang sakti menjadi taruhannya.

Kamu akan terkejut ketika menyelami perasaan-perasaan terpendam tokoh-tokoh ini. Jangan lewatkan setiap detail! Semuanya menyimpan petunjuk, baik tentang cinta maupun misteri yang semakin kelam dan memikat di sekitar mereka. Bagaimanapun juga, Dunia Bayangan adalah dunia di mana semua mitos itu nyata.