Aku Juga Ada di Sini

28 Desember, 2010

The Ogre of Olgefrot

The Ogre of OglefortThe Ogre of Oglefort by Eva Ibbotson

My rating: 3 of 5 stars


Seorang nenek sihir (Hag) dan teman-teman anehnya di asrama khusus orang “tidak biasa” harus berangkat ke pertemuan orang-orang “tidak biasa” se-London. Karena binatang pendamping Hag mogok, ia mencari-cari pengganti dan akhirnya terpaksa pergi dengan Ivo, anak laki-laki dari panti asuhan yang sering mengobrol dengannya. Di pertemuan, tiga nenek cenayang menyuruh mereka (Hag, Ivo, penyihir bernama Dr. Brian, dan troll bernama Ulf) untuk menyelamatkan seorang putri dari ancaman ogre jahat di kastil Ogrefort. Begitu tiba di sana, mereka terkejut menemukan bahwa ogre itu tidak jahat (sudah terlalu lelah untuk berbuat jahat) dan putri itu (Mirella) malah datang sendiri ke Olgrefort karena ingin diubah menjadi burung. Setelah Mirella berubah pikiran dan tidak mau menjadi burung lagi, mereka membereskan kastil itu dan menemukan berbagai hal menarik.

Orangtua Mirella mengirim tentara untuk menyelamatkannya dan tiga nenek cenayang mengirim tiga hantu karena menganggap Hag dan kawan-kawan gagal melaksanakan tugas. Tidak ada yang berhasil menumpas ogre itu (Dennis) atau membawa pulang Mirella. Dennis meminta ketiga bibinya datang untuk memberikan kastilnya, tapi mereka mengeluh dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketiga bibi ini meninggalkan sebutir telur yang sudah lama seharusnya menetas. Mirella dan Ivo dan anjing mereka yang dinamai Charlie dengan senang hati merawat telur itu.


Penuturannya sangat cocok untuk anak-anak, panjang-pendek kalimatnya sesuai dan punya rima yang enak untuk dibacakan. Setiap karakter dideskripsikan dengan menarik dan ada banyak hal yang lucu dan mengerikan sekaligus, sehingga anak-anak akan tergelitik membacanya.

Sebenarnya novel ini berpotensi bagus, tapi setelah sepertiga bagian pertama yang menunjukkan tanda-tanda ceritanya akan seru, sisanya malah membosankan. Jalan ceritanya memang tidak terduga, tapi malah mengecewakan. Menarik bahwa ternyata ogre itu tidak jahat dan sang putri datang atas kemauannya sendiri, tapi kejadian-kejadian berikutnya pasang surut dan tidak ada tanjakan sampai klimaks. Serbuan tentara dan hantu sempat membuat ceritanya menarik, tapi setelah itu hanya ada ribet sana ribet sini tanpa hal mendebarkan sama sekali. Bahkan telur itu tidak menetas di akhir cerita.




View all my reviews

Going Bovine

Going BovineGoing Bovine by Libba Bray

My rating: 4 of 5 stars


Cameron Smith ternyata mengidap penyakit Sapi Gila. Demi menemukan obatnya, dia memulai sebuah perjalanan darat bersama orang gerdil yang kecanduan video game. Selama perjalanan, Cameron harus melawan kekuatan jahat bersama pemain jazz legendaris, meloloskan diri dari cengkeraman pemuja setan, dan membantu Dr. X bereksperimen untuk memecahkan misteri alam semesta. Keluarga Smith yang sempat berantakan pun mengalami banyak perkembangan selama Cameron sakit dan menghilang.

Novel ini mengangkat tema yang tidak umum di dalam genre fiksi fantasi, yaitu penyakit sapi gila. Gaya bahasanya sangat lincah dan khas remaja putra. Dengan sudut pandang orang pertama, pembaca akan merasa sangat dekat dan seakan-akan cerita ini sungguhan. Selain itu, makhluk-makhluk ajaib di novel ini tidak pasaran seperti vampir, manusia serigala, atau malaikat biasa. Dengan cara yang tidak menggurui, novel ini juga mengandung nilai-nilai di dalam keluarga dan kemanusiaan.





View all my reviews

The Summoning

The Summoning (Darkest Powers, #1)The Summoning by Kelley Armstrong

My rating: 4 of 5 stars


Sinopsis
The Summoning
Chloe Saunders (15 tahun) panik ketika melihat hantu, lalu dikirim ke Lyle House (asrama perawatan remaja bermasalah) karena dikira mengidap Skizofrenia. Ternyata Lyle House merupakan tempat eksperimen manusia berkekuatan supranatural. Chloe pun kabur bersama tiga remaja lain, yaitu Derek (manusia serigala), Simon (penyihir), dan Rae (pemantik api). Di akhir buku satu, Chloe tertangkap oleh bibinya yang ternyata berkhianat.

The Summoning dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama (Chloe), dan penceritaannya sangat berhasil. Seluruh perasaan dan perkembangan pikiran Chloe bisa dirasakan dengan jelas oleh pembaca. Ketegangan terjaga dengan baik, walaupun mungkin terlalu menyeramkan bagi pembaca yang lebih muda (ada zombi). Tapi secara keseluruhan, buku ini aman untuk remaja karena tidak ada aspek-aspek negatif seperti narkoba, pergaulan bebas, dan pembenaran atas kekerasan.



View all my reviews

Charlie Bone karya Jenny Nimo

Midnight for Charlie Bone (The Children of the Red King, #1)Midnight for Charlie Bone by Jenny Nimmo

My rating: 4 of 5 stars


Sinopsis
Ketika berusia 10 tahun, Charlie Bone diketahui punya bakat ajaib. Ketika melihat foto, dia bisa mendengarkan pembicaraan ketika foto/lukisan itu dibuat, termasuk pikiran orang-orang di dalam foto/lukisan itu. Bakat ini pun berkembang dengan Charlie bisa memainkan pikiran orang yang berusaha menghipnotisnya. Akibat bakat ini, nenek Charlie mengirimnya ke sekolah asrama Bloor’s Academy. Sekolah itu berisi ratusan murid yang sepuluh di antaranya adalah anak-anak berbakat ajaib, seperti Billy (7 tahun) yang bisa berbicara kepada binatang dan Gabriel yang bisa mendeteksi perasaan pemilik benda yang disentuhnya. Murid-murid lain biasanya berbakat seni, dan Charlie dimasukkan ke dalam kelompok musik (berjubah biru). Di Bloor’s Academy, Charlie menyelidiki misteri hilangnya seorang anak perempuan (Emma) yang diduga telah dihipnotis oleh Manfred Bloor, anak kepala sekolah. Setelah menyelamatkan Emma, Charlie memutuskan untuk tetap belajar di Bloor’s Academy untuk menolong anak-anak seperti Emma.

Serial Children of the Red King
Serial karya Jenny Nimmo ini telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Hak pembuatan filmnya sudah dibeli oleh Warner Brothers sejak tiga atau empat tahun lalu, tapi mungkin ditunda karena 20th Century Fox mengeluarkan Percy Jackson terlebih dulu. Meskipun awalnya direncanakan untuk berakhir di nomor lima, serial ini berlanjut hingga nomor delapan sebagai finalnya. Tebal halamannya stabil (versi Amerikanya berkisar antara 400 sampai hampir 500 halaman, tapi hurufnya besar-besar). Di Amazon.com dan Goodreads, ratingnya sekitar 4.0 karena serial ini dianggap kurang mendalam bagi pembaca dewasa, tapi mereka setuju anak-anak akan menyukainya.

Inti cerita dalam serial ini adalah Charlie berusaha menguak plot-plot tersembunyi di antara para keturunan the Red King, yaitu keluarga Bloor dan keluarga asal anak-anak berbakat ajaib (termasuk keluarganya sendiri dari garis ayah). Charlie pun berusaha mencari ayahnya yang diduga telah tewas, tapi sebenarnya menghilang. Anak-anak berbakat ajaib ini nantinya bisa menggunakan sihir untuk melawan kejahatan.

Penceritaannya ringan dan menarik, juga langsung masuk ke dalam kasus. Jenny pun berhasil menulis dari sudut pandang anak-anak, sehingga cara berpikir Charlie bisa ditangkap oleh pembaca. Tokoh-tokohnya juga unik, apalagi sebagian besar dari mereka punya bakat ajaib. Nomor-nomor berikutnya dalam serial ini juga berisi petualangan dan usaha yang berhubungan dengan hal-hal ajaib seperti mesin waktu dan boa biru.




View all my reviews

Paranormalcy

Paranormalcy (Paranormalcy, #1)Paranormalcy by Kiersten White

My rating: 3 of 5 stars



Evie (16 tahun) dibuang oleh orangtuanya sejak kecil, dan sepuluh tahun yang lalu diambil oleh IPCA (International Paranormal Containment Agency, semacam organisasi penertib makhluk gaib/paranormal) dan membantu mereka mengamankan paranormal yang “nakal”. Kegemparan terjadi ketika banyak paranormal mati (atau mati lagi, bagi vampir) secara berturut-turut. Evie pun terus-menerus diganggu oleh peri bernama Reth (semacam mantan pacarnya) dan seorang shapeshifter bernama Lend menyusup ke dalam IPCA.

Melalui Lend dan Reth, yang juga memperebutkan hatinya, Evie mengetahui bahwa ia merupakan inti dari sebuah ramalan misterius buatan kaum peri. Kekuatan jahat yang sedang mengambili jiwa paranormal adalah dirinya yang lain (bernama Vivian), dan Evie harus memilih untuk bergabung bersama Vivian atau melawannya. Tapi kalau Evie menolak melakukan hal yang sama seperti Vivian (mengambili jiwa paranormal), Evie tidak akan dapat melanjutkan hidupnya, karena selama ini pun dia tak punya jiwa dan hanya menggunakan secuil jiwa yang diberikan oleh Reth.

Ide ceritanya menarik (agensi penertib makhluk gaib/pararnomal) dan melibatkan semua makhluk yang sedang ngetren di kalangan pembaca muda, yaitu vampir, manusia serigala, peri, shapeshifter. Sampulnya bagus dan banyak penulis laris remaja mendukung novel ini, yaitu Lisa McMann (trilogi Wake, Gramedia), Becca Fitzpatrick (Hush Hush, Ufuk), Apprilynne Pike (Wings, Gramedia tapi belum terbit), Carrie Ryan (The Forest of Hands and Teeth, Kubika).

Gaya penceritaannya kurang bagus. Meskipun suara dan karakter Evie sebagai remaja terkesan lincah dan nyata, interaksi antartokohnya terlalu kaku dan dipaksakan lucunya. Mengalirnya antaradegan bisa menimbulkan rasa bosan dan romantismenya payah, sama sekali tidak menggigit seperti Clary-Jace-Simon, atau Nora dengan Patch. Selama membaca novel ini, saya terus-menerus berharap yang menulisnya adalah Sarah Rees Brennan (penulis the Demon's Lexicon) atau penulis lain yang bisa menggarap ide cerita dengan lebih baik.




View all my reviews

31 Agustus, 2010

Lament: Ratapan Gadis Peri

Lament karya Maggie Stiefvater (akan diterbitkan oleh Ufuk Press pada September 2010)



Bagi dirinya yang tidak bisa terbang pergi, mereguk cinta sesaat sajalah yang didamba…


Deirdre Monaghan (Dee) tidak menyangka bakat musiknya akan menarik perhatian peri, dan itu semua dimulai pada festival musik yang diikutinya. Siapa yang kira ketika ia sedang dalam kondisi terburuk (muntah akibat gugup sebelum pertunjukan), seorang pria tampan membantunya menenangkan diri? Tidak cukup sampai di situ, lelaki yang mengaku bernama Luke ini bahkan entah bagaimana berpasangan dengannya dalam pertunjukan: Dee bermain harpa, Luke bermain flute. Didampingi oleh Luke, Dee berhasil memukau penonton dengan suaranya yang sejernih malaikat. Setelah semuanya usai, Luke menghilang begitu saja.

Itulah awal pertemuan Dee dengan Luke, sekaligus awal segala bencana yang melanda gadis 16 tahun itu. Orang-orang terdekatnya mengalami musibah, dan Dee terus-menerus diintai atau dibuntuti. Apa peran Luke dalam semua ini? Bisakah Dee memercayainya? Bagaimana dengan perasaan yang mulai tumbuh di dalam dada Dee?

Lament karya Maggie Stiefvater bukanlah novel fantasi kontemporer biasa. Maggie berhasil membungkusnya dengan musik dan romansa yang menggetarkan. Kehadiran Luke mungkin mengingatkan kita dengan Patch dari Hush Hush, tapi dalam versi yang lebih dewasa dan lebih tenang. Sementara itu, Dee adalah heroine yang semula tampak biasa saja, bahkan rapuh, tapi ternyata ia kuat dan tidak gentar. Humor yang dilontarkan oleh sahabat Dee, namanya James, bisa mengingatkan kita kepada Simon dari serial The Mortal Instruments.

Tentu saja, Maggie tidak sekadar mencampur baur apa yang telah ada dalam novel-novel remaja lainnya. Lament akan menghanyutkan kita ke dalam alunannya, dan membuai kita dalam liris kata-katanya.

Baca bab pertamanya di http://nyanyianbahasa.wordpress.com/mengunduh/